Dilihat : 83 kali

ARAH BAIK - Brigadir Nofryansyah Yosua Hutabarat tewas setelah baku tembak dengan anggota polisi lain yakni Bharada E pada Jumat, 8 Juli 2022 di rumah dinasnya.

Penembakan yang terjadi di rumah dinas Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri itu yang terletak di kawasan Duren Tigas, Jakarta Selatan, memberikan fakta-fakta yang janggal serta inkonsistensi pernyataan dari Polri sendiri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Ahmad Ramadhan mengungkapkan kejadian penembakan Brigadir Yosua oleh Bharada Edi kediaman Kadiv Propam Polri Inspektur Jenderal Ferdy Sambo.

Ahmad mengatakan kejadian baku tembak terjadi pada Jumat 8 Juli 2022 sekitar pukul 17.00 WIB.

Brigadir Yosua  dan Bharada E merupakan staf atau bagian dari Div Propam Mabes Polri.

Ahmad menyebut Brigadir Yosua merupakan sopir istri Kadiv Propam, sementara Bharada E adalah ADC atau ajudan Kadiv Propam.

Pada saat kejadian, kata Ahmad, yang berada di lokasi adalah Bharada E, Brigadir Yosua, dan Ibu Kadiv Propam.

Menurut versi Polri, insiden bermula dari dugaan tindakan pelecehan oleh Brigadir Yosua terhadap istri Ferdy Sambo.

Ahmad mengatakan Brigadir Yosua melakukan pelecehan dan menodong istri Ferdy Sambo menggunakan pistol. Sontak, istri Kadic Prapom itu berteriak meminta tolong.

“Mendengar teriakan dari ibu, maka Bharada E yang saat itu, berada di lantai atas. Menghampiri dari atas tangga  yang jaraknya dari Brigadir Yosua itu kurang lebih 10 meter. Bertanya ada apa, tetapi direspons dengan tembakan yang dilakukan Brigadir Yosua,” tutur Ahmad.

Saling tembak pun terjadi dan berakibat tewasnya Brigadir Yosua di tempat. Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi dan alat bukti, kata Ahmad, ada tujuh proyektil yang dikeluarkan dari Brigadir Yosua dan lima proyektil yang dikeluarkan dari Bharada E.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Indonesia Police Watch (IPW) menyoroti kejanggalan dalam pengusutan kasus penembakan Brigadir Yosua.

Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso mempertanyakan polisi telah melakukan otopsi terhadap Brigadir Yosua, padahal statusnya sebagai terduga pelaku pelecehan terhadap istri Ferdy Sambo.

IPW memnpertanyakan tujuan tindakan bedah mayat tersebut. Menurutnya, tindakan tersebut harusnya dilakukan terhadap korban, bukan pelaku.

Selain itu, Sugeng juga mempertanyakan tidak adanya garis polisi di TKP. Menurutnya, pemasangan garis polisi dalam rangka pengamanan TKP agar tidak berubah sesuai aturan yang berlaku pada umumnya. Ia juga mempertanyakan adanya luka sayat dan dua jari putus pada jenazah Brigadir Yosua.

Sementara KontraS mengatakan beberapa kronologi yang disampaikan Polri, terdapat kejanggalan, antara lain terdapat disparitas waktu yang cukup lama antara peristiwa dengan pengungkapan public, yaitu sekitar dua hari, kronologis yang berubah-ubah disampaikan oleh kepolisian dan ditemukannya luka sayatan pada jenzah Brigadir Yosua di bagian wajah.

Kejanggalan lainnya adalah keluarga yang sempat dilarang melihat jenazah, CCTV dalam kondisi mati pada saat peristiwa terjadi, serta keterangan ketua RT yang menyebutkan tidak mengetahui adanya peristiwa dan proses olah TKP penembakan Brigadir Yosua.***


Kejanggalan Dibalik Peristiwa Baku Tembak Antar Anggota Kepolisian Yosua Dan Bharada