Dilihat : 88 kali

ARAH BAIK – Menteri Keuangan, Sri Mulyani mewaspadai situasi global yang diperkirakan akan mengalami resesi akibat pelemahan ekonomi.

Sri Mulyani mengakui bahwa saat ini berbagai risiko global akan mendorong kenaikan inflasi dan penurunan pertumbuhan ekonomi.

“Kita harus waspada karena ini akan berlangsung sampai tahun depan. Risiko global mengenai inflasi dan resesi atau stagflasi sangat riil dan akan menjadi salah satu topic pembahasan kita,” katanya dalam konferensi pers di Nusa Dua Bali, Rabu, 13 Juli 2022.

Sri Mulyani menyebut, seluruh dunia saat ini tengah menghadapi konsekuensi dari masalah geopolitik dalam bentuk kenaikan harga pangan dan energi.

Lantunya, padahal inflasi sebelumnya juga sudah mengalami kenaikan sebagai dampak distribusi rantai pasok pascapandemi Covid-19.

“Kemudian inflasi ini diperburuk dengan geopolitical situation perang di Ukraina yang menimbulkan dampak kenaikan harga pangan dan energy. Jadi ini triple hit dari sisi supply disruption dan energi. Kenaikan yang tinggi inflasi ini sudah kita lihat di berbagai negara,” ungkapnya.

Survei yang dirilis Bloomberg, Indonesia masuk dalam negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi.

Dari daftar 15 negara Asia yang berpotensi mengalami resesi ekonomi, Sri Lanka memiliki potensi 85 persen, Selandia Baru 33 persen, lalu Korea Selatan, Jepang dan Tiongkok. Indonesia berada di urutan ke-14 dengan persentase tiga persen.

Sri Mulyani mengatakan Indonesia dianggap memiliki ketahanan cukup baik didukung neraca pembayaran, APBN, ketahanan dan juga dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga yang relative dalam situasi lebih baik.

“Ini tidak berarti kita terlena. Kita tetap waspada namun massage-nya adalah kita tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan kita. Apakah itu fiscal policy, monetary policy, OJK di finance sektor dan juga regulasi yang lain untuk memonitor terutama potensi exposure dari korporasi Indonesia,”pungkasnya.***


Seluruh Dunia Hadapi Resesi Ekonomi Sri Mulyani Minta Indonesia Waspada