Dilihat : 66 kali

ARAH BAIK - Dalam beberapa waktu terakhir ini kasus Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan secara konsisten, setelah sebelumnya melandai selama beberapa bulan.

Menurut dari laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), tren kenaikan kasus seperti ini juga terjadi hampir 70 negara di dunia, yang dimana aturan Covid-19 mulai diperlonggar.

Salah satu yang menjadi biang kerok naiknya kasus Covid-19 di beberapa negara adalah subvarian Omicron BA.4 dan BA.5. Kedua subvarian tersebut juga telah masuk ke Indonesia, meski belum menjadi varian yang dominan.

Lalu, apakah benar Omicron BA.4 dan BA.5 lebih mematikan dibanding varian sebelumnya?

Berdasarkan dari sejumlah studi awal di Eropa, kedua subvarian tersebut dinyatakan dapat menular lebih cepat. Inilah yang menyebabkan jumlah kasus Covid-19 meroket di banyak negara. Omicron BA.4 dan BA.5 juga disebut lebih kuat menerobos kekebalan tubuh.

Secara umum, semua virus Covid-19 mematikan, meski demikian hingga kini para peneliti belum menemukan bukti bahwa subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 menyebabkan sakit yang lebih parah dibanding varian sebelumnya. 

Kata Jeffrey Shaman, ahli epidemiologi penyakit menular di Universitas Columbia, dikutip dari New York Times, pada bulan April dan Mei lalu, subvarian BA.4 dan BA.5 memicu lonjakan kasus di Afrika Selatan, akan tetapi gelombangnya tidak sebesar gelombang sebelumnya dan kematian tidak meningkat tajam.

Saat ini, sekitar 21% dari kasus Covid-19 di Amerika Serikat adalah kasus BA.4 dan BA.5. Melihat kondisi ini, Shaman menyebut sangat mungkin ada gelombang Covid-19 baru di Amerika Serikat yang dipicu oleh dua subvarian tersebut. 

WHO sendiri telah menetapkan Omicron BA.4 dan BA.5 sebagai varian yang masuk dalam pemantauan.***


Kasus Covid19 Naik Lagi Apakah Benar Omicron Ba4 Dan Ba5 Lebih Mematikan