Dilihat : 88 kali

ARAH BAIK – Menjelang dimulainya tahapan Pemilihan Umum 2024 pada pertengahan Juni ini, elite politik terus bergerilya membangun koalisi politik.

Sesudah Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan bersepakat membentuk Koalisi Indonesia Baru, sekarang waktunya Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai NasDem menjadi dua lakon pembicaraan terbaru mengenai peluang lahirnya poros politik baru menghadapi pemilihan presiden.

Ketua umum dari kedua partai tersebut, Prabowo Subianto dan Surya Paloh bertemu pada hari Rabu, 1 Juni 2022.

Ahmad Ali, Wakil Ketua Umum Partai NasDem, mengatakan pertemuan itu bias menjadi sinyal koalisi partai. Kata Ahmad Ali partai NasDem memang membuka diri untuk berkoalisi dengan partai manapun.

“Tetapi kesepahaman berpikir harus dikedepankan dalam membangun koalisi,” ujarnya, Kamis 2 Juni 2022.

Di NasDem Tower, Jakarta,  Prabowo dan Paloh bertemu dan pertemuan itu berlangsung selama hampir lima jam.

Pada Rabu siang, Prabowo datang ke markas NasDem dengan didampingi Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, dan juga Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani.

“Temu Kangen,” kata Prabowo ketika membuka konferensi pers sesuai pertemuan.

Dalam pemilihan presiden 2024 nanti, Prabowo menyatakan selain dirinya partainya membuka peluang untuk mencalonkan tokoh lain.

Gerindra, kata Prabowo, bisa mengusung tokoh mana pun yang sesuai dengan kriteria partai.

“Tidak harus Prabowo, siapa saja,” kata Menteri Pertahanan itu.

Surya Paloh pun menuturkan partainya tidak menutup kemungkinan untuk berkoalisi dengan partai Gerindra pada pilpres 2024.

“Ada pepatah inggris tua, dari gelas ke bibir semua bias terjadi. Apa saja dapat terjadi, itu pepatah inggris tua,” ujarnya.

Isi dari pertemuan itu, Paloh mengungkapkan, NasDem dan Gerindra sudah bersepakat untuk menjaga stabilitas nasional pada masa hajatan politik lima tahunan tersebut.

“Stabilitas nasional harus kita jaga,” kata Paloh.

Pertemuan pada Rabu lalu, menurut Ali banyak membicarakan berbagai isu politik Tanah Air. Tetapi pembahasan belum sampai masuk ke urusan kesepakatan koalisi di antara kedua partai.

“Kemungkinan penjajakan koalisi tidak bisa juga langsung saat baru sekali bertemu. Tapi bahwa mereka akan sering bertemu itu akan dilakukan,” ujarnya.

Ali pun menegaskan bahwa NasDem tak akan mengedepankan koalisi yang mengharuskan ketua umum partai menjadi calon presiden yang bakal diusung. NasDem memandang koalisi merupakan wadah bagi partai untuk menjaring calon terbaik pemimpin bangsa.

NasDem rencanya akan menyelenggarakan rapat kerja nasional (rakernas) pada Rabu, 15 Juni mendatang. Dalam rapat tersebut, pengurus partai di tingkat pusat akan menyaring usul soal calon presiden aspirasi dewan pimpinan wilayah.

“Dalam rakernas nanti, NasDem tidak memutuskan siapa yang akan menjadi calon presiden, melainkan merekomendasikan nama calon presdien,” ujar Ali.

Toh, aspirasi daerah itu sayup-sayup sudah terdengar di Ibu Kota. Sejumlah nama, kata Ali, banyak beredar menjadi usul DPW NasDem, seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

“Tetapi kami belum bisa prediksi siapa nama yang akan keluar nantinya,” ucapnya.

Intinya, Ali mengatkan, upaya membangun koalisi amat sangat penting untuk dilakukan setelah rakernas menghasilkan rekomendasi nama calon presiden. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang kelak diusung koalisi NasDem, kata Ali, harus bisa menyelesaikan tingginya polarisasi masyarakat yang menjadi warisan pilpres sebelumnya.

“NasDem memang belum sampai mengusung siapa. Tapi, kalua sampai diduetkan Anies-Ganjar, atau sebalikmya, tentu saja ini dapat membantu menyelesaikan,” katanya

Sejalan dengan Ali, Willy Aditya, Ketua DPP NasDem, mengatakan partainya akan segera membahas koalisi partai sesuai rakernas. Dialog antara Paloh dan Prabowo bisa menjadi modal untuk menentukan arah koalisi.

“Dialog kemarin memang menjadi modal. Tapi baru bertukar pikiran saja,” ujarnya.

Sementara itu, Sufmi Dasco Ahmad enggan mengomentari pertemuan antara ketua umum partainya dan Surya Paloh.

“Saya tidak mau ngomong apa-apa kepada wartawan perihal pertemuan kemarin,” ucap Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu.

Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, melihat pertemuan Prabowo dan Palih kemarin sebagai penjajakan awal membangun koalisi pencalonan dalam pilpres 2024. Kedua partai juga kemungkinan mulai memetakan komposisi calon yang bakal diusung.

“Misalnya, kemungkinan menduetkan Prabowo-Anies karena titik temunya ada. Prabowo ingin maju dan Anies dilirik NasDem,” katanya.

Komposisi lain juga berpeluang terbentuk tanpa melibatkan pemimpin partai.

“Apalagi keluar pernyataan Prabowo bahwa capres tak harus dirinya,” ujar Adi.

Ujang Komarudin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, menilai pertemuan antara Prabowo dan Paloh, sama-sama bekas kader Golkar, belum banyak mempengaruhi konstelasi politik menjelang pemilihan presiden 2024.

“Baru menjajaki segala kemungkinan dan dinamika politik yang berkembang ke depan karena semuanya masih cair,” ucapnya.***


Palohprabowo Bertemu Nasdem Dan Gerindra Bakal Berkoalisi