Dilihat : 90 kali

ARAH BAIK - Pada Senin, 6 Juni 2022, Elon Musk mengancam akan menarik kembali tawarannya untuk membeli Twitter jika perusahaan jejaring sosial itu gagal memberikan data akun palsu.

Menurut dokumen yang diajukan pihak Musk regulator sekuritas, Twitter telah melakukan pelanggaran material dan perjanjian merger dan ia mempunyai hak untuk tidak melanjutkan kesepatan itu.

Dokumen pengajuan tersebut menandai eskalasi pernyataan Musk yang sebelumnya telah menyoroti perihal akun palsu yang bisa menimbulkan pembatalan kesepakatan sebesar US$ 44 miliar (Rp 636 triliun) untuk mengambil alih Twitter.

Ancaman tersebut juga menandai pernyataan Musk yang disampaikan secara tertulis untuk pertama kali dan bukan mengunggahnya melalui platform media sosial Twitter.

Pada April lalu, Musk menyetujui kesepakatan untuk membeli Twitter. Namun, pada pertengahan bulan Mei, ia mulai menyinggung terkait kekhawatirannya akan aku palsu yang telah beredar di Twitter.

Sebelumnya, Musk sudah mengatakan melalui akun Twitter-nya bahwa apabila kekhawatirannya tidak ditangani dirinya berhak membatalkan kesepakatan. Menurutnya jumlah bot sebenarnya bisa jadi empat kali lebih banyak dari perkiraan yang diberikan Twitter. Bot dapat digunakan di media sosial untuk menyebarkan berita palsu.

Di sisi lain, menurut CEO Twitter Parag Agrawal, kurang dari lima persen akun yang aktif pada hari tertentu di Twitter adalah bot, tetapi analisis tidak dapat direplikasi secara eksternal untuk menjaga kerahasiaan data pengguna.

Akan tetapi Musk mengabaikan tanggapan dari Twitter tersebut dan menegaskan kembali sikapnya itu pada Senin. Mike Ringler, pengacara Musk mengatakan bahwa Twitter sudah gagal menanggapi pertanyaan valid yang diajukan Musk tentang akun palsu.

“Musk telah menjelaskan dia tidak percaya bahwa metodologi pengujian yang lemah dari perusahaan itu memadai sehingga dia harus melakukan analisisnya sendiri,” kata Ringler dalam sebuah surat.

Untuk melanjutkan kesepakatan, menurut dokumen itu, pihak Musk harus memiliki pemahaman yang lengkap dan akurat tentang inti model bisnis Twitter termasuk basis pengguna aktifnya.

Sejumlah pengamat menilai pertanyaan Musk tentang bot Twitter itu disampaikan sebagai cara untuk mengakhiri proses pengambilalihan atau untuk menekan Twitter agar menurunkan harga.

Melalui Twitter, analis Wedbush Dan Ives pada Senin memprediksi adanya biaya penalti sebesar US$ 1 miliar (Rp 14,4 triliun) jika terjadi kemunduran kesepakatan antara Musk dan Twitter. Sementara Angelo Zino dari CFRA Research berpendapat pihaknya memprediksi kesepakatan diselesaikan di pengadilan.***


Elon Musk Ancam Bakal Batal Beli Twitter Jika Data Akun Palsu Ditahan