Dilihat : 57 kali

ARAH BAIK - Penularan virus Covid-19 kini sudah bisa dikendalikan, namun pemerintah tetap mewanti-wanti agar masyarakat tidak terlena.

Berbagai pelonggaran protokol kesehatan dari masa pandemi ke masa endemi mengharuskan kita untuk bisa hidup berdampingan virus corona.

Meski demikian harus tetap waspada, cara penanganan virus ini jelas berbeda dibandingkan diawal masa pandemi.

Seiring berjalan waktu, kini semakin turun jumlah pasien Covid-19 di berbagai rumah sakit dan melandainya kurva penularan virus corona.

Hasil riset Kementerian Kesehatan menunjukan tingginya daya tahan masyarakat terhadap virus SARS-CoV-2 ini. Sebagian besar warga tampak sudah meimiliki kekebalan komunal (herd immunity).

Langkah pemerintah mencabut yang mewajibakan masyarakat mengenakan masker di tempat terbuka adalah salah satu kebijakan agar warganya mampu beradaptasi dengan situasi yang baru.

Sejak sepekan yang lalu, pemerintah telah memberikan kelonggaran sejumlah protokol kesehatan terkait dengan mobilitas penduduk.

Pelaku perjalanan dalam dan luar negeri yang sudah divaksin dosis ketiga tidak perlu lagi menunjukkan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) maupun Antigen.

Seperti yang terjadi di berbagai negara tetangga, pemerintah saat ini memang sedang mempersiapkan masa transisi dari pandemi ke endemi. Walau virus Covid-19 belum seratus persen hilang.

Angka harian penularan Covid-19 per 18 Mei 2022 hanya 327 kasus secara nasional. Jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan saat puncak gelombang kedua pandemi pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, di setiap harinya paling sedikit 45 ribu kasus infeksi Covid-19. Inilah yang membuat sistem dan fasilitas Kesehatan kita nyaris kolaps.

Pemerintah harus gencar mendorong warganya pemberian vaksinasi dosis ketiga kepada semua kalangan, agar pengalaman buruk tidak terulang kembali.

Saat ini cakupan suntikan vaksinsasi booster masih sangat rendah. Realisasivaksindosisketiga per 18 Maret 2022 baru mencapai 20,5% dari target 208 juta jiwa. Cakupan program vaksinbosster ini meliputi daerah Jawa dan Bali.

Selain itu, pemerintah mesti melakukan surveillance secara terus menerus untuk mengantisipasi lonjakan wabah. Setiap kasus harus ditangani secara serius agar penularannya tidak meluas. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan laporan dari masyarakat setempat saja.

Untuk jangka menengah dan panjang, sebaiknya pemerintah mempersiapkan berbagai skenario dan memperbaiki Prosedur Operasi Standar (SOP) penanganan wabah, sejak sekarang.

Dengan begitu, jika terjadi lonjakan wabah, semua elemen pemerintah otomatis akan bergerak menanganinya tanpa perlu saling tunjuk dan lempar tanggung jawab. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan Menteri Kesehatan Terawan pada masa awal pandemi yang menimbulkan menggampangkan penularan virus Covid-19.

Pembaruan prosedur standar ini menjadi penting sebagai pedoman jika terjadi wabah yang serupa lagi di masa mendatang.

Belakangan ini juga dikabarkan soal munculnya wabah penyakit hepatitis akut yang berpotensi mewabah seperti Covid-19, jelas berita ini membuat masyarakat khawatir.

Penyakit yang belum tentu diketahui darimana penyebabnya itu kini telah menyebar di tujuh provinsi dan mengakibatkan lima orang meninggal.

Kita harus belajar dari penanganan pandemi Covid-19 agar tidak terjadi kesalahan yang sama lagi. ***


Harus Tetap Waspada Tanpa Menggunakan Masker