Dilihat : 155 kali

ARAH BAIK – Imamatul Khair, alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), penerima beasiswa Fulbright membagikan beberapa tips agar bisa lolos beasiswa.

Imamatul mengambil studi S2 di Bilingual, ESL, and Multicultural Education University of Massachusetts di Amherst, Amerika Serikat.                         

Kata Imamatul langkah awal yang perlu dilakukan, adalah pahami dengan baik penyelenggara beasiswa yang diincar.

Beasiswa Fulbright didanai oleh the United States Department of State dan dikelola oleh The American-Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Beasiswa Fulbright sudah dikenal di lebih dari 155 negara.

“Beasiswa ini juga merupakan beasiswa yang prestigious dan fully funded. Jadi kita tidak perlu bingung untuk mencari biaya lain-lain karena semuanya gratis,” jelas Imamatul seperti dikutip di laman resmi UNAIR pada Rabu, 20 April 2022.

Setelah paham penyelenggara beasiswa, Imamatul mengatakan kenali program studi dan universitas tujuan. Imamatul menjelaskan bahwa alasannya memilih mendaftar beasiswa Fulbright karena beasiswa ini menyedikan prodi dan universitas impiannya.

Imamatul juga mengatakan, memilih prodi itu lama sekali prosesnya karena harus mempertimbangkan berbagai macam hal. Termasuk, apakah bisa bermanfaat untuk Indonesia jika ilmunya dibawa kembali ke Indonesia.

Untuk menarik perhatian penyelenggara beasiswa, Imamatul mengatakan salah satunya bisa dilakukan dengan berorganisasi. Selama kuliah S1, Imamatul mengaku aktif di sejumlah organisasi yang relevan dengan program studi yang dia inginkan.

Kegiataan organisasi yang dia jalani terkait dengan pengabdian masyarakat. Dia juga memilki prestasi lain yang juga dapat mendukungnya meraih beasiswa Fulbright. Imamatul terpilih sebagai mahasiswa berprestasi pada 2017.

Selain aktif di bidang non-akademik, kata Imamatul, keaktifan di dunia akademik juga harus dipersiapkan. Sebab, ada tes akademis yang dilakukan dalam proses seleksi. Begitu pula untuk TOEFL IBT, kata Imamatul, harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Kalau interview sendiri sebenarnya lebih ke rajin-rajin nyari tutorial di internet aja. Karena interview-nya melibatkan dosen hingga direktur, sehingga perlu strategi menjawab yang diplomatis,” jelas Imamatul.

Tips terakhir adalah jangan lekas menyerah. Beasiswa Fulbright bukan beasiswa pertama yang dicoba oleh Imamatul, melainkan percobaan yang ke-8. Ia berpesan kepada para pejuang beasiswa agar tidak mudah menyerah dalam memperjuangkan beasiswa.

“Kalau sekarang belum lolos coba lagi tahun depan. Kalau beasiswa yang pertama belum lolos, coba beasiswa lainnya,” pungkas Imamatul. 


Tips Dari Penerima Beasiswa Fulbright Imamatul Khair Setelah 7 Kali Gagal Raih Beasiswa