Dilihat : 92 kali

ARAH BAIK - Pemberitaan ketidakmampuan negara membayar hutang China kembali bergulir. Ini seiring krisis yang dialami Sri Lanka.

China memang menjadi donatur ke sejumlah negara dengan skema Belt and Road (BRI). Rata- rata hutang digunakan untuk insfrastruktur.

Formatnya sederhana, siapkan proyek oleh pemerintah setempat khususnya di sektor transaksi dan energi. Selanjutnya, China langsung memberikan pinjaman jangka panjang dengan bunga kompetitif.

Akan tetapi beberapa negara justru tidak mampu menjalankan proyek secara tepat. Sehingga proyek mangkrak dan pemerintah tersebut terpaksa menanggung utang besar.

Lalu, siapa saja negara yang terjebak hutang China?

1. Sri Lanka

Sri Langka kini sedang dilanda krisis. Ini menjalar dari ekonomi ke politik.

Negeri Ceylon itu mengalami kemelut terparah sejak merdek adi 1948. Ribuan warga bahkan turun ke jalan meminta pemerintah agar mundur.

Faktanya, sejumlah hal yang menjadi penyebab krisis Sri Lanka, apa saja?

Ketergantungan impor menjadi salah satu penyebabnya. Negeri itu masih melakukan impor bahan-bahan pertanian seperti pupuk dan bahan bakar.

Masalah diperburuk dengan kenaikan harga komoditas global, yang menyebabkan harga ikut naik. Ketika harga komoditas melonjak, ini pun membebani biaya impor Sri Lanka.

Belum lagi nilai mata uang yang terus longsor. Selain itu, cadangan devisa negara itu boncos.

Per maret 2022, cadangan devisa Sri Langka tercatat US$ 1,72 miliar, terendah sejak November tahun lalu. Cadangan devisa negara itu turun selama tiga bulan berturut turut.

Hal ini yang menyebabkan Sri Langka susah membayar hutang. Selasa lalu, bank sentral Sri Langka (CBSL) mengumumkan gagal bayar US$ 51 miliar terhadap utang luar negeri.

"Kami kehilangan kemampuan untuk membayar," kata Kepala CBSL Nandalal Weerasinghe dikutip dari Reuters.

"Kami harus fokus untuk mengimpor kebutuhan pokok. Bukan membayar hutang luar negeri. Kita sudah sampai di titik membayar hutang menjadi sangat menantang dan tidak mungkin," sambungnya.

Hutang luar negeri Sri Lanka per akhir 2021 adalah US$ 50,72 miliar. Jumlah ini sudah 60,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sebenarnya salah satu negara yang meminjamkan uang ke Sri Lanka adalah China. Negeri itu merupakan salah satu kreditur terbesar Sri Lanka.

Pemerintah meminjam Beijing untuk sejumlah infarstruktur proyek sejak 2005, melalui skema Belt and Road (BRI). Salah satunya pembangunan pelabuhan Hambantota.

Mengutip Times of India, total utang Sri Lanka ke China mencapai US$ 8 miliar. Sekitar 1/6 dari total hutang luar negerinya.

Namun sayangnya sebagian proyek dinilai tak memberi manfaat ekonomi bagi negara itu. China juga meminta jatah ekspor produk mereka ke Sri Lanka senilai US$ 3,5 miliar.

"Dari awal, kecerobohan meminjam dari China buat infrastruktur yang tak menguntungkan membuat negara itu di titik ini," tulis media itu mengutip laporan Hong Kong Post.

Mengutip BBC, pemerintah Sri Lanka pada awal tahun ini mencoba melobi Beijing untuk restrukturisasi hutang. Namun diketahui, China telah menolak restrukturisasi utang tersebut dan itu semakin menambah beban negeri itu.

Sebenarnya China bukan satu-satunya negara yang meminjamkan uang ke Sri Lanka. Ada juga India dan Jepang.

Perlu diketahui Sri Lanka sangat bergantung ekonominya dari pariwisata. Namun ini pun terhantam Covid-19.

2. Uganda

Negara lain yang disebut tengah bergulat dengan hutang China adalah Uganda. Negara ini dilaporkan tengah berusaha mengubah perjanjian pinjamannya dengan China.

Ini untuk memastikan sejumlah aset tidak hilang karena default (gagal bayar), antara lain: bandara internasional Entebbe.

Menurut laporan Gulf News yang melansir Bloomberg awal pekan ini, perjanjian itu dibuat tahun 2015. Negara itu meminjam US$ 200 juta dari Bank Export-Import (EXIM) China untuk memperluas bandara Entebbe.

Klausul yang ingin diubah antara lain, perlunya Otoritas Penerbangan Sipil Uganda untuk meminta persetujuan dari pemberi pinjaman China untuk anggaran dan rencana strategisnya. Aturan lain mengamanatkan bahwa setiap perselisihan antara para pihak harus diselesaikan oleh Komisi Arbitrase Ekonomi dan Perdagangan Internasional China.

Hal sama juga dimuat Economic Times, mengutip sejumlah media lokal, Presiden Uganda Yoweri Museveri dilaporkan telah mengirimkan delegasi ke Beijing guna bernegosiasi dengan pemerintah China.

Uganda mencoba bernegosiasi sejak Maret 2021. Namun sejauh ini belum berhasil. Pinjaman itu sendiri memiliki tenor 20 tahun, termasuk masa tenggang tujuh tahun.

"Tetapi sekarang tampaknya transaksi yang ditandatangani dengan EXIM China berarti Uganda 'menyerahkan' satu-satunya bandara internasionalnya," tulis media India tersebut mengutip SaharaReporters.com, portal berita yang berfokus pada Afrika.

"Pengungkapan bahwa pemerintah Uganda menandatangani perjanjian, antara lain, melepaskan kekebalan untuk aset kedaulatannya telah menimbulkan pertanyaan tentang tingkat pengawasan dan uji tuntas yang dilakukan birokrat sebelum melakukan perjanjian secara internasional," tulis laporan dari Allafrica.com.

3. Kenya

Kenya juga diyakini akan gagal membayar hutang ke China. Hal ini terkait pembangunan proyek kereta api (Standard Gauge Railway/SGR) di negara Afrika tersebut, antara Mombasa dan Nairobi.

Kenya awalnya meminjam US$ 3,6 miliar dari Bank EXIM China, guna membangun rute dari Mombasa ke Nairobi. Pemerintah lalu meminjam lagi US$ 1,5 miliar untuk memperpanjangnya ke Naivasha, sebuah kota di Central Rift Valley.

Jika Kenya tak bisa membayar hutang, maka pelabuhan Mombasa, aset paling berharga di negeri itu diyakini akan diambil alih  Beijing. Meski begitu, pemerintah Kenya dan China menyangkal hal tersebut di mana Mombasa disebut bukan jaminan pinjaman itu.

4. Maladewa

Maladewa juga diyakini terjerat hutang China. Ini karena hutang yang membengkak.

Awalnya, Maladewa meminjam dana sebesar US$ 200 juta atau setara Rp 2 triliun untuk menghubungkan pulau ibukota Male ke pulau Hulumale. Di mana bandara dan lahan luas masih banyak tersedia.

Hal ini diharapkan dapat menjadi jalan keluar mengenai keterbatasan lahan properti dan akses menuju kawasan ekonomi baru. Jembatan itu rampung di 2018 dan diberi nama "China-Maldives Friendship Bridge".

Selain Jembatan, Maladewa juga terus meminjam uang untuk pengembangan infrastruktur lainnya. Pada tahun ini, beberapa mantan pejabat Maladewa dan perwakilan China menunjukkan angka utang terbaru.

Mereka menyebutkan Male berutang ke China antara US$ 1,1 miliar hingga US$ 1,4 miliar. Angka ini masih merupakan jumlah yang sangat besar untuk negara pulau dengan PDB sekitar US$ 4,9 miliar.

Negara yang bergantung dari sektor pariwisata ini sangatlah terpukul oleh pandemi Covid-19. Dan jika pendapatan pemerintah Maladewa turun, mungkin sulit untuk membayar kembali pinjaman pada tahun 2022-2023.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Mengutip data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Februari 2022, China adalah pemberi hutang terbesar keempat buat Indonesia. Bersama dengan Singapura, Amerika Serikat (AS), dan Jepang.

Pada Februari 2022, ULN Indonesia dari China tercatat US$ 20,78 miliar. Naik 0,76% dari bulan sebelumnya (month-on-month/mtm). Dalam periode yang sama, ULN dari Singapura turun 0,75%, dari AS turun 0,22%, dan Jepang turun 0,91%. ***


4 Negara Masuk Jebakan Batman Hutang China Ada Ri