Dilihat : 103 kali

ARAH BAIK - Lima tahun yang lalu, bank digital masih sangat peminat. Namun semenjak Jenny Juwita untuk membuka rekening di Jenius, aplikasi bank digital milik PT Bank BTPN Tbk.

Perempuan berusia 31 tahun ini bercerita yang awalnya tergiur dengan bunga yang lumayan tinggi saat itu. Bunga yang ditawarkan Jenius pada tahun 2017 sebesar 7%, tergolong tinggi daripada bank-bank pada umumnya. Tidak hanya itu, tabungan Jenius bebas biaya administrasi dan potongan pajak.

Hal yang menarik bagi Jenny, Jenius mempunyai fitur yang bernama dream saver dan flexi saver dengan bunga simpanan yang sama besarnya dengan bunga deposito. Di dream saver, nasabah bisa menabung sesuai dengan keinginan.

Misalnya, nasabah ingin menabung untuk membeli ponsel baru dengan anggaran Rp 3 juta atau dengan bujet Rp 5 juta, maka nasabah tersebut bisa mengatur ingin menabung berapa banyak dalam sehari, seminggu atau perbulannya.

“Akan ada autodebet otomatis di tabungan kita," ujar Jenny pada Tempo.

Setelah nominal saldo yang diinginkan tercapai, dan nasabah belum mau menggunkan dananya untuk kepentingan membeli ponsel, kata Jenny, tidak masalah. “ Karena bunganya tinggi, bisa diambil kapan saja dan tidak akan kena penalti (tidak seperti deposito, yang bunganya bisa hangus),” ungkapnya.

Hingga saat ini, ia sangat puas menabung di bank digital karena sifatnya anti-ribet. Semua transaksi dilakukan dengan sangat mudah, hanya dengan satu klik via telepon genggam atau komputer (PC). Transaksi keuangan juga bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.

“Tidak perlu antre, tidak membuang waktu karena harus menunggu petugas customer service melayani nasabah lain yang enggak kelar-kelar. Fiturnya juga lebih beragam dibanding bank kovensional dan lebih.

Di Balik Layar Bank Digital

Bank digital di Indonesia mengalami pertumbuhan yang masif. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 semakin banyak nasabah memanfaatkan bank digital karena memungkinkan transaksi perbankan dilakukan tanpa harus keluar rumah.

Berbeda dengan mobile banking, bank digital menawarkan berbagai produk perbankan, seperti pembukaan rekening hingga pengajuan kredit atau pinjaman. Semuanya dilakukan secara online hanya melalui aplikasi.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juni 2021 menunjukan bahwa Indonesia sudah memiliki 14 bank digital, 10 sudah beroperasi, dan sisanya sedang dipersiapkan.

Adapun pertumbuhan jumlah bank digital ini diawali dengan aksi akuisisi bank-bank kecil. Di antaranya BCA adalah PT Bank Central Asia Tbk 99,99997%, dan PT BCA Finance 0,00003%. BCA Digital sudah memiliki rencana untuk IPO, namun masih menjadi wacana karena IPO memiiki banyak pertimbangan, yaitu fundamental bisnis, rekam jejak kinerja, tingkat permodalan, kebutuhan pendanaan, dinamika pasar modal dan sebagainya.

“Saat ini fokus kami bukan di IPO, tapi fokus ke mengembangkan bisnis Perusahaan. Sebab posisi permodalan dan likuiditas BCA Digital cukup pada saat ini,” kata Lanny.  

Dalam pengembangan bisnis, BCA Digital akan selalu mendengarkan suara konsumen dalam membangun fitur-fitur Blu sesuai dengan kebutuhan finansial nasabah, sekaligus meningkatkan kualitas produk, serta layanan Blu. BCA Digital ini ingin mengembangkan dan memperluas skala ekosistem digital Blu dengan menggandeng dan berkolaborasi dengn bisnis partners.

Menurut Lanny, tren bank digital ini telah menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindarkan, termaasuk karena adanya perubahan gaya hidup generasi muda maupun masyarakat modern. Para digital savvy ini menginginkan adanya layanan perbankan yang praktis.

Tren ini diyakini memiliki potensi besar sekaligus mendorong munculnya sejumlah digital di Indonesia. Dengan banyaknya bank digital yang ada di Indonesia, maka industri pun akan tumbuh dengan subur.

Persaingan pun akan menjadi lebih ketat anatr bank digital untuk berlomba menyediakan produk dan layanan yang berkualitas sesuai kebutuhan. Per akhir Maret 2022 tercatat hampir 650 nasabah BCA Digital.

Berbeda dengan BCA Digital dari aspek kepemilikan saham, susunan pemegang saham Bank Jago saat ini yaitu pemegang saham atau investor dalam negeri mencapai 61,5% dan 38,5% adalah investor asing.

Bicara soal investor asing, Direktur Kepatuhan/Sekretaris Perusahaan Bank Jago Tjit Siat Fun menjelaskan GIC masuk menjadi pemegang saham minoritas saat Bank Jago melaksanakan penawaran umum terbatas II (rights issue II) pada April 2021. GIC adalah perusahaan investasi Singapura.

“Latar belakang investor minoritas masuk menjadi pemegang saham, merupakan keputusan dari masing-masing investor. Maka kami tidak bisa berkomentar lebih lanjut terkait dengan keputusan investor,” kata Tjit 

 Lalu, sebesar apa campur tangan investor asing terhadap pengambilan keputusan ?

Tjit menjelaskan, sesuai dengan peraturan regulator, seluruh investor, baik asing dan dalam negeri memiliki hak suara dalam pengambilan keputusan di Rapat Umum Pemegang Saham. Ia pun menegaskan pemegang saham pengendali dari Bank jago merupakan investor lokal.

Menurut Tjit, dengan masuknya investor asing sebagai pemegang saham Bank jago, ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap prospek dari kinerja Bank Jago. Kehadiran investor, baik asing dan dalam negeri, juga bakal memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan indutri perbankan nasional yang merupakan industri padat modal.

“Investor asing itu, tidak hanya berinvestasi di bank berbasis teknologi, namun juga ada di perbankan umumnya (konvensional) dan sektor-sektor ekonomi lainnya di Indonesia. Kami melihat kehadiran investor tentu memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan industri perbankan nasional dan juga perekonomian nasional secara umum,” kata Tjit.

Selain Bank Jago, bank digital lainnya, yakni Bank Neo Commerce mengundang masuknya investor asing dengan melakukan IPO pada 13 Januari 2015. Dikutip dari bankneocommerce.co.id , pada thun 2019, Akulaku Silvrr Indonesi telah resmi sebagai pemegang saham baru di Bank Neo Commerce melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD). Salah satu pemilik akaun Akulaku adalah investor asal China.

Deputi Direktur Basel dan Perbankan Internasional, Pelaksana Tugas Deputi Direktur Arsitektur Perbankan Indonesia Otoritas jasa Keuangan (OJK), Tony menanggapi soal keberadaan investor asing di bank-bank digital di Indonesia.

Menurut Tony, masuknya perusahaan-perusahaan investasi raksasa ke bank-bank digital Indonesia, seperti induknya Gojek dan Shopee- lalu para investor raksasa mendapatkan kue keuntungan yang lebih besar, itu terjadi karena bagian dari teori ekonomi dan hal yang biasa dalam bisnis.

Gambarannya sederhana, ketika Sergey Brin mendirikan Google pada 1998. Saat itu, Google masih kecil sehingga tidak ada yang mau membemli perusahaan tersebut, termasuk Yahoo. Sekarang Yahoo malah tenggelam.

Seiring berjalannya waktu, Google pada akhirnya mendulang akses sukses karena melakukan investasi yang tidak murah, bahkan bisa impas pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Mereka lalu berinvestasi ke Google Cloud, yang juga tidak murah.

“Mereka (investor) adalah korporasi, yang tentu memikirkan return of investment sehingga pada akhirnya semua akan dibebankan ke konsumen. Inilah bisnis, mereka bukan NGO, ada share holders yang harus dibayar. Itulah bisnis,” ujar Tony.

Keamanan Bank Digital

Keamanan adalh faktor yang tidak bisa dikesampingkan dalam bisnis perbankan. Sebagai nasabah bank digitaal, Jenny menceritakan pernah punya pengalaman yang tidak enak.

Pada tahun 2021, ada sejumlah nasabah Bank Jenius yang mendapatkan telepon dari orang yang diyakini Jenny sebagai penipu. Oknum tersebut mengaku sebaga customer service Bank Jenius, yang menginformasikan ada pergantian kartu.

“Saya curiga, sudah ada kebocoran data. Sebab semua (nasabah) yang ditelponin itu, anehnya dari provider telepon yang sama,” kata Jenny.

Communications & Daya Head Bank BTPN Andrie Darusman menyatakan, seiring dengan perkembangan teknologi, menurut Andrie, tindak kejahatan digital juga ikut berkembang. Dengan begitu, pengguna dan penyedia layanan harus terus menjaga kerahasiaan informasi pada produk yang digunakan.

Hingga saat ini, Jenius memastikan tidak ada kebocoran data maupun kesalahan sistem. Kalaupun ada kebocoran data, kejadian muncul adalah murni upaya dari oknum yang tidak bertanggung jawab dan berusaha memanfaatkan teknologi serta kesempatan.  

"Kami di Bank BTPN memastikan data nasabah selalu aman dengan senantiasa menambahkan sistem keamanan perbankan digital mengikuti perkembangan teknologi dan zaman," kata Andrie. 

Sesuai standar keamanan Bank Indonesia & OJK, Andrie menjelaskan, Jenius menerapkan keamanan berlapis menggunakan Pin, password, OTP, pindai kode biometrik untuk dapat mengakses aplikasi dan transaksi.

Supaya keamanan semakin maksimal, Jenius melakukan kolaborasi dengan beberapa partner salah satunya adalah Visa yang memiliki lapisan keamanan tersendiri dengan sistem 3-D Secure.

Hal ini juga disampaikan oleh Bank Jago. Tjit memastikan bahwa keamanan bertransaksi adalah salah satu fokus utama Bank Jago. Bank tersebut bahkan sudah menggelontorkan nilai investasi dalam yang cukup untuk mengembangkan sistem teknologi informasi terkini demi mewujudkan transaksi perbankan yang aman, mudah inovatif, dan kolaboratif.

Senada dengan Bank Jago, BCA Digital meyakini trust atau kepercayaan merupakan kunci dapat meyakinkan nasabah agar mereka merasa nyaman untuk menabung dan bertransaksi di bank digital.

Sebagai bagian dari Grup BCA, BCA Digital pun bersinergi dengan BCA untuk menerapkan standar kualitas produk perbankan yang secure dan reliable, dengan tujuan agar nasabah dapat melakukan aktifitas perbankan dengan lancar dan nyaman cukup lewat ponsel. Hal ini adalah hal yang dicari oleh para pengguna layanan perbankan digital.

Soal ini, OJK mengakui ada sejumlah tantangan yang dihadapi oleh perbankan digital. Di antaranya perlindungan data pribadi, di mana bank harus bisa memastikan adanya perlindungan data para nasabah mengingat perlindungan data pribadi masih berbentuk RUU, belum menjadi Undang-undang.

Tantangan lainnya adalah risiko strategis, dimana investasi bidang IT harus sesuai dengan strategi bisnis si bank. Berikutnya, ada risiko serangan siber yang terus meningkat seiring dengan proses digitalisasi.

Yang tidak kalah penting adalah kesiapan dari bank untuk mendukung transformasi digital, baik dari talent SDM-nya, digital culture-nya, dan desain organisasi perbankannya seperti apa. Ada juga risiko kebocoran data, penyalahgunaan artificial intelligence dan rangka pengaturan yang belum kondusif.

Commonwealth Bank

Presiden Direktur Commonwealth Bank, Lauren Sulistiawati, menyatakan pihaknya sebetulnya memiliki sejumlah rencana pengembangan sebelum adanya pandemi Covid-19. Namun akhirnya rencana pengembangan di antaranya membuka kantor cabang di wilayah tertentu harus dievaluasi kembali.

Lalu apakah kondisi saat ini akan menjadi momentum Commonwealth Bank dalam mengembangkan bank digital ?

Meski belum mempunyai bank digital, namun layanan yang dinamai CommonBank Mobile sudah berkembang. Lauren mengakui digitalisasi perbankan akan sangat memudahkan bank menjangkau nasabah individu, maupun nasabah korporat. Sejumlah kemudahan pun ditaawarkan hingga proses KPR bisa diditalkan meski belum bisa 100% karena perlu tanda tangan basah di depan notaris.

Berkembangnya digitalisasi, kejahatan siber dan fraud juga semakin canggih. Maka yang diperlukan adalah pertahanan di bagian dalam bank harus kuat terlebih dulu. Dengan begitu, para pencuri dari luar tidak masuk ke dalam sistem bank. Hal ini pula yang mendasari mayoritas atau hampir 70 persen investasi Bank Commonwealth ditanamkan di sektor teknologi.

Lauren menyebutkan pembuatan bank digital itu memakan waktu dan investasi biaya yang cukup besar.

"Sebab membutuhkan evaluasi dan membangun teknologi canggih apakah sistem perbankan tersebut sudah cukup kuat untuk menawarkan bank digital yang aman bagi nasabah," kata Lauren.***


Dibalik Layar Geliat Bank Digital Di Tanah Air