Dilihat : 50 kali

ARAH BAIK - Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta menegaskan bahwa krisis berlarut saat ini menyebabkan seluruh negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia sedang mengalami kebingungan dan tidak berdaya, karena tidak tahu bagaimana caranya bersikap.

Hal ini karena terjadinya krisis sosial yang besar dan menyebabkan terjadinya revolusi sosial di seluruh negara, termasuk Indonesia salah satunya.

“Disinilah kita mengingatkan pentingnya agama menjadi inspirasi untuk menyelesaikan persoalan di tengah krisis yang melanda dunia, dan karenanya krisis ini juga menuntut lahirnya kepemimpinan baru kata Anis Matta dalam Gelora Talk bertajuk Ramadhan Tahun Ke-3 Dalam Suasana Krisis Berlarut, Apa Makna dan Pesan Islam’,” Rabu 6 April 2022 petang.

Diskusi yang digelar secara daring dan disiarkan langsung melalui Gelora TV ini, dihadiri oleh narasumber Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Abbas, Mubaligh Nasional Haikal Hasan Baras dan Pakar Epidemiologi Klinis (Ahli Ilmu Penyebaran Penyakit) Ahlina Institute dr. Tifauzia Tyassuma.

Dunia saat ini, kata Anis Matta, dilanda berbagai krisis diantaranya pandemi, krisis ekonomi, hingga munculnya ancaman krisis pangan akibat dampak perang Rusia dan Ukraina.

Dalam situasi saat ini, negara-negara di dunia akan mengambil jalan pintas dengan melakukan langkah-langkah represif untuk mempertahankan dirinya di tengah kondisi gelombang protes massa ini yang terus menerus datang.

Situasi tersebut, akan menyebabkan disintegrasi sosial, khususnya pada negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia.

“Dan saya kira juga termasuk Indonesia, termasuk ancaman disintegrasi teritorial,”ujar Anis.

Menurut Anis Matta, agama tidak hanya menjadi sumber inspirasi untuk menyelesaikan persoalan di level individu, melainkan pada level sistemik.

Karena, agama telah memberikan petunjuk jalan yang lurus dan terkoneksi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kita perlu melihat agama ini sebagai satu sumber inspirasi yang bisa menyelesaikan masalah ini bukan hanya pada level individu seperti Nabi Yusuf AS ketika sengaja berlapar-lapar supaya tetap bisa mengingat orang yang lapar. Tetapi juga melahirkan satu gerakan yang bisa menawarkan agama sebagai solusi bagi penyelesaian sistemik terhadap masalah yang sekarang kita sedang alami,” ujarnya.

Bagi Indonesia, lanjut Anis Matta, pemimpin baru yang kuat dan visioner, mampu mengelola krisis menjadi peluang, karen pada dasarnya krisis adalah peluang dan tanda akan mucul pemimpin baru.

“Jadi bukan dijawab dengan gerakan presiden 3 periode, karena itu kita ada persoalan visi kepemimpinan, Pemilu 2024 harus ada pemimpin baru. Dan kenapa saya memulainya dengan cerita Nabi Yusuf, karena beliau bisa menyelesaikan krisis ekonomi secara sistemik pada zamannya dan membuka jalan munculnya Islam sebagai pemimpin peradaban,” tegas Anis Matta.

Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas berpendapat berbagai persoalan bangsa ini bisa diselesaikan dengan kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Namun, akhir-akhir ini Pancasila sering digunakan untuk memukul lawan dengan mengatakan lawannya tidak Pacasilais. Padahal yang menggunakan Pancasila untuk memukul lawan tersebut justru tidak Pancasilais.

Menurut Anwar, mereka justru tidak mengamalkan sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa yang seharusnya mendarah daging dan menjadi penentu dalam gerak dan ritme kehidupan.

“Negeri ini tidak dalam keadaan aman-aman saja. Oleh karena itu bagi saya timbul pertanyaan, apa yang harus kita lakukan. Kembalilah kepada Pancasila dan hukum dasar yang ada di negeri ini secara murni dan konsekuen. Jadi jangan Pancasila itu hanya di bibir saja,” kata Anwar.

Ia mengajak semua pihak untuk berkaca dan bersama-sama mengendalikan dirii agar tidak memperburuk keadaan krisis saat ini.

“Dan acuan kita dalam mengendalikan diri kita adalah nilai-nilai dan semangat, serta jiwa yang ada di dalam Pancasila serta hukum dasar yang ada di negeri ini yaitu UUD 1945,” kata Anwar.

Sementara Mubaligh Nasional Haekal Hassan Baras berharap agar buku karya Ketua Umum Partai Anis Matta yang berjudul “ Pesan Islam Menghadapi Krisis” bisa menjadi bahan diskusi untuk mengatasi krisis saat ini.

Buku tersebut memberikan berbagai solusi soal krisi dan kepemimpinan, serta menganjurkan manusia untuk kembali ke agama.

“Apa yang disampaikan Pak Anis Matta dalam bukunya sangat signifikan sekali, saya sampai baca dua kali. Saya ingin buku ini dijadikan bahan bahan diskusi di mana pun. Ini solusi dari salah seorang anak bangsa yang sangat potensial, bisa menjadi solusi yang terbaik untuk mengatasi persoalan bangsa saat ini,” kata Haekal Hassan.

Pakar Epidemiologi Klinis dr. Tifauzia Tyassuma mengingatkan, bahwa pendemi saat ini masih akn terus berlangsung 7 tahun lagi, dan masih akan terus bermunculan varian-varian baru, bahkan virus baru. Namun, karakter dari Codid-19 semakin lama akan melemah.

“Kondisi sekarang persis dengan kondisi 100 tahun lalu, ketika ada Flu Spanyol yang disebabkan virus H1N1. Kita akan menghadapi kondisi pandemi selama 10 tahun,” kata dr. Tifauzia.

Dia juga mengingatkan, dalam kurun waktu 10 tahun, dunia akan menghadapi situasi yang sangat berbahaya, yakni kemungkinan terjadinya Perang Dunia III, meskipun pandemi sendiri akan berakhir dan karakter Covid-19 akan melemah.

“Perang Dunia I dan II itu terjadi setelah ada kasus Flu H1N1. Dan sama-sama kita tahui, bahwa Coronavirus ini berasal dari Laboratorium di Wuhan, China. Kita juga dikejutkan ditemukannya Laboratorium Biologi di Ukraina yang dikatakan juga memproduksi Covid-19. Artinya apa, dalam 10 tahun ke depan ini akan banyak virus dan kuman patogen yang dilepaskan,” ujarnya.

Ahli Ilmu Penyebaran Penyakit Ahlina Institute juga menegaskan, hampir semua negara di dunia memiliki Laboratorium Biologi. Tidak hanya China dan Ukraina saja, Indonesia juga seperti laboratorium Namru milik Angkatan Laut Amerika Serikat, yang akhirnya ditutup oleh Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari.

“Jadi untuk 10 tahun ini, kita tidak hanya menghadapi Coronavirus dan mutasi-mutasinya, tetapi juga kemungkinan virus baru atau kuman patogen lain yang mungkin akan dikeluarkan untuk meramaikan situasi,” katanya.

Virus baru atau kuman patogen tersebut, ungkap dr. Tifauzia, akan menjadi senjata  baru abad 21 yang dilepaskan oleh negara-negara yang memiliki keunguulan dalam bidang biologi. Tujuannya untuk merusak tatanan dunia melalui Perang Dunia III agar terbentuknya tatanan dunia baru.

“Jadi segenap komponen bangsa harus paham dengan persoalan yang fundamental ini. Sehingga perlu mengambil suatu tindakan multidemensi, sebab perang senjata virus dan kuman patogen akan menyebabkan kelaparan dimana-mana. Ini sangat berbahaya, apalagi Indonesia memiliki kepadatan penduduk,” pungkasnya.***


Dunia Dilanda Krisis Anis Matta Perlu Kepemimpinan Baru