Dilihat : 63 kali

ARAH BAIK – Terapi cuci otak Digital Substraction Angiography (DSA) kembali jadi kontroversi. Sebelumnya, banyak masyarakat Indonesia, baik dari kalangan pejabat hingga masyarakat biasa yang menikmati terapi ini.

Meski sudah diteliti sebagai disertasi S3, terapi ini belum pernah uji klinis. Ada beberapa kelemahan dalam disertasi yang dinilainya substansi. Karenanya, tidak bisa menggantikan uji klinis.

Kelemahan pertama adalah penggunaan heparin. Seharusnya, heparin dalam dosis kecil digunakan untuk menjaga ujung kateter tetap terbuka. Dalam terapi 'cuci otak' mantan Menteri Kesehatan Dokter Terawan, heparin difungsikan untuk merontokkan gumpalan darah pemicu stroke.

"Bekuan darah itu sudah mengeras di situ dan tidak mungkin kita cari di literatur manapun bahwa heparin efektif merontokkan, melarutkan bekuan darah seperti itu," ungkap Prof Rianto.

Kelemahan berikutnya adalah tidak ada kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Tanpa ada kelompok kontrol, kesahihan riset diragukan.

Promotor riset Terawan di Unhas, Prof Irawan Yusuf, pada 2018 menyebut riset Terawan tentang DSA sudah memenuhi standar penelitian untuk S3. Namun untuk diterapkan pada pasien, masih harus melalui uji klinis.

Terapi cuci otak merupakan inovasi metode medis Terawan yang kala itu menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto serta Dokter Kepresidenan Republik Indonesia. Terawan mulai memperkenalkan inovasi itu sejak 2004 dan mulai banyak peminat tahun 2010.

DSA yang dilakukan Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. Cara ini diklaim berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke. Terawan mengklaim 40 ribu pasien telah mencoba pengobatannya.

Namun, IDI kemudian mempersoalkan metode terapi cuci otak yang menggunakan alat DSA Terawan yang belum teruji secara ilmiah. Selain itu, Terawan juga melakukan publikasi dan promosi masif dengan klaim kesembuhan di media.***


Begini Penampakan Lab Cuci Otak Dr Terawan Yang Bikin Heboh Ri