Dilihat : 66 kali

ARAH BAIK - Meningkatnya pendapatan masyarakat Indonesia saat ini dan makin beragamnya produk keuangan yang ditawarkan, minat masyarakat untuk melakukan investasi makin meningkat.

Masyarakat makin memahami bahwa untuk mempersiapkan kebutuhan keuangan di masa depan, selain menabung juga perlu melakukan kegiatan investasi.

Secara sederhana, investasi dapat didefinisikan sebagai upaya membelanjakan sejumlah uang atau dana pada sesuatu hal yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.

Hal tersebut antara lain dapat berupa membeli properti, surat berharga (seperti deposito, saham, obligasi, reksa dana), logam mulia, perhiasan atau bentuk lainnya.

Dalam melakukan investasi terdapat dua hal utama yang wajib dipahami oleh masyarakat, yaitu tingkat imbal hasil yang ditawarkan (return) dan tingkat resiko (risk).

Khusus terkait dengan resiko, setiap investor memiliki sikap toleransi terhadap resiko investasi yang berbeda-beda.

Sebagian merasa nyaman untuk mengambil resiko (risk-takers), sebagian kurang berani atau ragu-ragu (risk-moderate) dan ada juga yang benar-benar tidak berani untuk mengambil resiko (risk-averse).

Tidak ada satupun instrumen nvestasi yang cocok untuk semua orang.

Setiap orang atau investor perlu mengenali profil resiko masing-masing sebelum melakukan investasi sehingga nantinya akan dapat memilih instrumen investasi yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Permasalahannya adalah bahwa masyarakat atau investor seringkali hanya memperhatikan tingkat imbal hasil yang ditawarkan (return).

Sehingga, lupa dan kurang memperhatikan potensi resiko yang mungkin dihadapi jika memilih suatu bentuk investasi, seperti melesatnya tingkat imbal hasil yang diharapkan (rugi), merosotnya nilai pasar dari investasi, gagal bayar dan lain sebaginya.

Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab makin maraknya kasus penipuan dan korban penawaran investasi yang diduga ilegal kepada masyarakat.

Seperti kasus penipuan yang dilakukan oleh Indra Kenz lewat platform Binomo dan penipuan oleh Doni Salmanan lewat platform Quotex.

Masyarakat tergiur oleh iming-iming dan janji hasil investasi yang tinggi, tapi kurang memperhatikan dan memahami tingkat resikonya.

Aspek legalitas lembaga yang menawarkan produk kurang diperhatikan, tertutup oleh janji hasil yang tinggi (seringkali tidak logis).

Masyarakat harus waspada semenjak dini, jika akan melakukan investasi. Jangan sampai karena ingin cepat menghasilkan keuntungan, tapi melupakan keamanan dananya.

“Legal dan Logis” jargon itulah yang selalu diperhatikan dalam berinvestasi.***


Belajar Dari Kasus Binomo Dan Quotex Kini Saatnya Berpikir Logis Dan Waspada Sebelum Berinvestasi