Dilihat : 55 kali

ARAH BAIK – Phising ibarat kejahatan jalanan nan ganas dan mematikan. Bukan hanya orang per orang atau korporasi yang pernah terperdaya ulah para peretas ini, negara pun pernah gigit jari. Kisah pahit ini dialami Pemerintah Puerto Rico.

Negara di kawasan Karibia itu menjadi korban penipuan bermodus phising. Akibatnya, mereka kehilangan uang USD2,6 juta atau setara Rp35,6 miliar.

Cerita bermula ketika Direktur Keuangan Perushaan Pengembangan Industri Puerto Rico, Ruben Rivera, mentransfer uang pada 17 Januari 2020 setelah menerima email yang mengatakan terjadi perubahan rekening perbankan terkait dengan pembayaran pengiriman uang. Seperti ditebak, email itu tak lebih ulah phiser.

Direktur Eksekutif lembaga pemerintah itu, Manuel Laboy mengatakan, para pejabat telah mengetahui insiden itu pada awal pekan ini dan segera melaporkannya kepada FBI.

"Ini adalah situasi yang sangat serius, sangat serius," katanya.

"Kami ingin itu diselidiki sampai konsekuensi terakhir," imbuhnya seperti dikutip AP, Kamis, 13 Februari 2020.

Investigasi Serius Laboy menolak untuk mengatakan bagaimana para pejabat mengetahui tentang penipuan itu, apakah ada yang diberhentikan atau bagaimana operasi perusahaan telah di pengaruhi oleh dana yang hilang.

Laboy menyebut penyelidikan internal sedang dilakukan untuk mengetahui apakah ada kelalaian seseorang atau pelanggaran terhadap prosedur standar.

Ia juga tidak mau berspekulasi tentang bagaimana hal-hal tersebut bisa terjadi. Laboy menambahkan bahwa lembaganya memperlakukan pengelolaan dana public dengan sangat serius.

"Ini tanggung jawab besar," tegas Laboy.

Terkait kejadian ini, pihak polisi belum memberikan komentar. Kejadian ini terjadi ketika wilayah AS itu terperosok dalam 13 tahun resesi yang sebagian memaksa pemerintah untuk mengurangi beberapa layanan.

Tak tahu kapan serangan semacam itu akan berhenti. Para peretas tak seluruhnya memburu keuntungan dengan melakukan kejahatan. Ada pula phiser yang hanya sekadar bermain-main atau bersenang-senang. Terkadang mereka melakukan demi membuktikan sistem keamanan informasi suatu tempat masih begitu rapuh.

Analisis terbaru Kaspersky di 2021 menunjukkan sistem anti-phishing mereka berhasil memblokir sebanyak 253,365,212 tautan phishing secara global. Secara total 8,20% pengguna Kaspersky di berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia telah menghadapi setidaknya satu serangan phishing pada 2021.

Di Asia Tenggara, Filipina mencatat angka tertinggi terkait pengguna yang terkena upaya phishing pada 2021 dengan 9,90%. Kedua adalah Malaysia (8,49%), disusul Thailand (7,93%).***


Kisah Pahit Puerto Rico Kehilangan Rp356 M Gegara Phising