Dilihat : 100 kali

ARAH BAIK – Kementrian Pertahanan Rusia menuduh Ukraina mencari perhatian kepada Barat.

Tuduhan Rusia ini berkaitan dengan penemuan ratusan mayat di sepanjang jalan kota Bunch, Ukraina.

Rusia menuduh Dinas Keamanan Ukraina yang melakukan pembunuhan warga sipil di beberapa kota dan desa demi mencari perhatian dari media Barat.

Para pejabat Rusia percaya bahwa Kiev sedang mencoba untuk menciptakan narasi bahwa Moskow akan bertanggung jawab atas kejahatan dalam perang.

Karena itu, Moskow menegaskan bahwa cara yang sama akan digunakan oleh Kiev untuk menyalahkan pasukan Rusia atas kekejaman di kota Buch yang terjadi pada minggu laglu.

Pasukan Pusat Operasi Psikologis Ukraina ke-72 melakukan syuting lagi terhadap warga sipil yang diduga dibunuh oleh tindakan kekerasan angkatan bersenjata Rusia agar dapat didistribusikan melalui media Barat,” ujar juru bicara Mayor Jenderal Igor Konahenkov dikutip dari Rusia Today Rabu, 6 April 2022.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut berlangsung di desa Moschun sekitar 23 km barat laut ibukota Ukraina Kiev.

Meskipun demikian, Konashenkov tidak membocorkan bukti langsung untuk mendukung pernyataan tersebut.

Pada Sabtu lalu, Ukraina membagikan beberapa rekaman dan gambar penemuan mayat di sepanjang jalan Bucha.

Mereka menuduh jika ratusan mayat tersebut dieksekusi oleh pasukan Rusia, namun belum ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut.

Moskow bersikeras jika pihaknya tidak pernah menargetkan warga sipil selama operasinya di Ukraina. Sebaliknya, mereka malah menuduh Kiev melakukan operasi bendera palsu sebagai bentuk dari provakasi.

Para pejabat menunjukan keraguan dari cerita Ukraina setelah ditemukannya video yang muncul beberapa hari setelah pasuka Rusia mundur dari Bucha.

Dalam video pidato Walikota setempat tidak menyebutkan pembunuhan apapun dan menyatakan pembebasan kota itu.

Dari kejadian tersebut Uni Eropa berjanji akan mengirimkan para ahlinya untuk memnatu otoritas Ukraina dalam mengumpulkan bukti di lokasi.

Moskow telah mengirimkan serangan besar-besaran kepada Ukraina pada akhir Februari lalu.

Serangan tersebut menyusul dengan kegagalan Ukraina untuk mengimplentasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada 2014 dan pengakuan Rusia terhadap Republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol yang dipertemukan oleh Jerman dan Perancis telah dirancang untuk mengatur status wilayah dalam negera Ukraina.

Rusia kini menuntut Ukraina agar menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak pernah bergabung  dengan Blok NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan bahwa serangan Rusia betul-betul tidak beralasan dan mengklaim bahwa rencana merebut dua wilayah dengan paksa kembali. ***


Rusia Tuduh Ukraina Cari Muka Demi Mencari Perhatian Barat