Dilihat : 42 kali

ARAH BAIK - Banyak aspek kehidupan yang dapat dilatih dan dikembangkan selama Bulan Ramadhan. Sebagai pendidikan karakter, puasa adalah momentum untuk melatih seseorang bersikap jujur, disiplin dan empati.

Kejujuran adalah nilai kehidupan yang mulai terkikis saat ini. Selama Ramadhan, seseorang berperilaku jujur dengan menahan lapar dan dahaga baik saat bersama orang lain maupun di kala sendirian.

Kita tidak hanya menahan rasa lapar dan haus saja, tetapi menahan amarah, membangun empati pada masyarakat yang kurang beruntung, serta kebersamaan bersama keluarga.

Ramadhan tahun ini diharapkan menjadi ladang pendidikan karakter dan membangun tindak laku yang baik kepada orang lain di sekitar kita.

Prolematis Mentalitas

Indonesia memiliki modal yang besar dan negara yang kuat, modal tersebut berupa luas wilayah, jumlah penduduk, kekayaan alam dan budaya, kesatuan bahasa, ketaatan pada ajaran agama, dan sistem pemerintah republik yang demokratis.

Akan tetapi, modal yang besar tersebut tidak banyak jika mentalitas bangsa belum terbangun untuk menjadi lebih baik. Problematika besar bangsa yang hingga saat ini belum selesai diantaranya adalah rendahnya mentalitas bangsa ini.

Rendahnya mentalitas suatu negara ditandai dengan sebagian masyarakat malas, tidak disiplin, suka melanggar aturan, ketidakjujuran, Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN). Hal ini yang menjadikan kualitas SDM negeri ini rendah. Krisis mentalitas bangsa juga dialami generasi muda Indonesia.

Rendahnya mental generasi muda Indonesia ditandai dengan siswa yang tidak lagi menghormati gurunya, melanggar tata tertib sekolah, tawuran, menyontek, dan aksi anarkis lainnya. Artinya, mental bangsa tidak akan berubah, jika generasi penerusnya kurang terarah. Maka bangsa ini tertinggal dengan bangsa lain, meskipun memiliki potensi yang besar.

Kualitas yag dimiliki bangsa Indonesia tergolong masih rendah, hal tersebut tercermin masih banyaknya kasus kejahatan dan jorupsi di Indonesi. Transparenscy International melakukan survei megenai korupsi di 180 negara. Organisasi non Pemerintah tingkat global ini merilis hasil survei tahun 2021 menunjukkan bahwa Indonesia meraih Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruptiion Perception Index (CPI) sebesar atau naik 1 poin dari capaian sebelumnya, dan masih jauh dari rata-rata global yaitu 43.

Lembaga swadaya masyarakat anti-korupsi Indonesia Corruption Watch (ICW) juga merilis Laporan Tren Penindakan Kasus Korupsi Semester I/2021 yang menunjukkan bahwa jumlah penindakan kasus korupsi selama enam bulan sejak awal 2021 mengalami kenaikan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya hingga mencapai 209 kasus.

Selain korupsi, tindak kejahatan lain di Indonesia juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun adalah jumlah serangan siber di Indonesia. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat serangan siber pada tahun 2020 mencapai 49,5 juta atau meningkat 41% dari tahun sebelumnya sebesar 290,3 juta.

Salah satu cara memperbaiki mentalis generasi muda yaitu melalui dunia pendidikan. Dunia pendidikan diharapkan mampu merombak mentalis generasi muda ke arah yang lebih baik.

Mentalis generasi muda dan kualitas pendidikan adalah dua faktor yang saling mempengaruhi. Mentalis yang baik dimiliki generasi muda, apabila kualitas pendidikan yang diberikan juga baik. Melakukan pendidikan karakter denganreligious approachmerupakan sebuah usaha pembentukan manusia seutuhnya.

Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlakul karimah, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis dan bertanggung jawab.

Tak sedikit pendidikan di Indonesia saat ini masih sering terjebak dalam permainan kekuasaan. Pendidikan yang tadinya netral, tidak memihak, dan objektif, berubah menjadi ajang pertarungan kekuasaan penuh intrik, konflik, bahkan sering diwarnai dengan kepentingan ideologis yang sempit.

Kondisi demikianlah, pendidikan yang asalnya menjadi sarana mencari kebenaran dan nilai-nilai akhirnya berubah menjadi sarana pencarian jati diri yang semu, abstrak, dan jauh dari pembentukan karakter anak bangsa.

Sejatinya, pendidikan karakter dalam membentuk kepribadian dan mentalitas peserta didik sangat penting adanya. Daniel Goleman dalam teorinya menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial di dalam kehidupan dibutuhkan sebesar 80%, sedangkan kecerdasan intelektual hanya sebesar 20%. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan karakter sangat dibutuhkan untuk membangun kehidupan yang beradab. Dengan adanya pendidikan karakter, peserta didik dapat mempelajari dan memahami bagaimaba menggunakan kebebasan berpendapat dan merefleksikan karakter yang baik dalam setiap sikap dan aktivitas.

Seorang penyair Arab Syauqi Bey berkata bahwa “Sesungguhnya kejayaan suatu umat (bangsa) terletak pada akhlak/ karakternya. Jika itu telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa itu.” penyair Arab ini sangat relevan dengan hadis Rasulullah bahwa “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti (HR Ahmad).”

Urgensi Pendidikan Karakter

Sistem Pendidikan dalam membentuk SDM dengan karakter yang tangguh, berbudi pekerti luhur, disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri masih jauh dari kata berhasil. Kondisi ini hampir terjadi di semua lembaga pendidikan.

Tak sedikit yang beranggapan bahwa mendidik kepribadian siswa adalah tanggung jawab orang tuanya. Pendapat tersebut memang benar, akan tetapi sekolah juga mempunyai fungsi untuk mendidik juga memiliki peran untuk mendidik perilaku generasi muda, bukan haya mengajarkan ilmu pengetahuan semata.

Melalui pendidikan, setiap momen Ramadhan yang kini sedang di jalani ileh umat muslim, dapat menjadi cntoh untuk membangun karakter SDM Indonesia. Hal itu tercermin dalam salah satu nilai yang sangat asasi dalam menjalankan ibadah puasa adalah mengasah kecerdasan sosial dan hal ini langsung dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Puasa dan sedekah bisa melahirkan karakter sosial yang positif serta melahirkan rasa kepedulian terhadap sesama.

Sungguh sangat indah apabila nilai-nilai yang ada di bulan Ramadhan dapat diteruskan tidak hanya dibulan Ramadhan saja karena tak hanya bermanfaat bagi kehidupan kita pribadi, tetapi juga menyelamatkan bangsa. Semoga di bulan Ramadhan kali ini dapat membentuk akhlak yang mulia bagi kita semua. ***


Puasa Ramadhan 2022 Momentum Untuk Meningkatkan Kualitas Sdm