Dilihat : 60 kali

ARAH BAIK – Seorang pengamat politik mengungkapkan dibalik rendahnya partisipasi anak muda dalam politik.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah mengatakan kondisi tersebut tak terlepas dari partai politik yang hanya mendekati anak muda ketika menjelang pemilihan.

“Mereka (partai politik) akan melakukan gerilya, melakukan kerja politik baik itu propaganda, persuasive dan sebagainya itu hanya di masa-masa ketika kontestasi politik,” ujar Dedi saat mengisi seminar Mendorong Partisipasi Anak Muda dalam Politik, Jumat 1 April 2022.

Dedi menturkan bahwa untuk membuat anak muda berpartisipasi dalam politik harus melakukan pendekatan jangka panjang.

Anak muda tidak akan tergiur dengan pendekatan partai politik yang hanya sebatas menjelang pemilihan.

“Jadi anak muda itu sebatas mediator saja bukan kelompok  yang bergerak atau bukan kelompok pendobrak dari tradisi lama. Politik yang hanya dikuasai oleh kelompok-kelompok matang dalam usia maupun ekonomi, sehingga anak-anak muda ini akan kesulitan untuk muncul,” kata Dedi.

Dedi mengungkapkan sulit untuk membawa anak-anak muda muda ke ranah yang valid sebab mereka idak stabil dalam isu-isu politik.

“Mereka menyukai hal-hal yang sifatnya kontestasi, ikut meramaikan dalam hal festival, kampanye, dalam hal bisa digiring untuk membentuk opini publik, termasuk juga bisa meramaikan medsos,” ungkap Dedi.

Lanjut Dedi, keramaian yang diikuti anak-anak muda sebatas prakontestasi dan mereka cenderung enggan ikut andil dalam kontestasi yang sesungguhnya.

“Akan banyak anak-anak muda yang terlibat dalam kampanye-kampanye politik, diskusi-diskusi politik, memasukkan perdebatan-perdebatan politik di media sosial dan tempat lain, tetapi dalam proses yang valid ketika ada pemilihan ke TPS itu tidak menjanjikan,” kata Dedi.***


Rendahnya Partisipasi Anak Muda Dalam Politik Pengamat Parpol Dekat Hanya Pas Jelang Pemilihan