Dilihat : 65 kali

ARAH BAIK – Tradisi terkait Ramadhan tersebar di berbagai penjuru Nusantara, bahkan dunia. Di pulau jawa, setidaknya ada empat tradisi khas bulan suci yang perlu anda ketahui.

1. Padusan

Melansir laman Portal Informasi Indonesia, padusan merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat jawa tengah dan Yogyakarta. Mulanya, padusan dilakukan seorang diri kini berubah menjadi mandi atau berendam beramai-ramai di satu mata air, sehari sebelum menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Padusan yang tadinya sakral, lambat laun berubah menjadi komoditas pariwisata. Pergeseran nilai yang terjadi kemudian menyebabkan lahirnya beberapa tempat yang menjadikan objek wisata seperti Umbul Manten di Klaten dan Umbul Pajangan di Sleman.

2. Megengan

Megengan adalah tradisi menyambut bulan suci Ramadhan yang berkembang di daerah Aceh, Melayu, dan juga Jawa.

Tradisi ini dilakukan berkumpul bersama keluarga, makan bersama, hingga membaca zikir dan tahlil untuk arwah keluarga yang telah wafat. Selain itu, masyarakat juga melakukan ziarah kubur dan menggelar sedekah massal di Masjid atau Musholla.

3. Dugderan

Dugderan merupakan festival khas Kota Semarang yang menandai dimulainya ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Melansir portal Center of Excellence DPAD Jogja, tradisi ini mencerminkan perpaduan tiga etnis yang mendominasi wilayah Semarang, yakni Jawa, Tionghoa, dan Arab.

Dugderan berasal dari kata ‘dug’ yang berarti bunyi bedug yang ditabuh dan kata ‘der’ yang berarti bunyi tembakan meriam. Tradisi ini diperkirakan mulai berlangsung sejak 1981 dan dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat mengenai penentuan awal Ramadhan. Untuk menyamakan persepsi masyarakat, maka ditabuhlah bedug di Masjid Agung Kauman dan meriam di halaman kabupaten dan dibunyikan masing-masing tiga kali kemudian dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di masjid.

Saat ini, perayaan dugderan semakin meriah dengan makin banyaknya pedagang yang menjual beraneka ragam makanan, minuman, hingga mainan. Selain itu, dalam upacara dugderan juga terdapat ikon berupa “warak ngendhog” berwujud hewan berkaki empat (kambing) dengan kepala mirip naga yang memperlihatkan perpaduan budaya antar etnis.

4. Dhandhangan

Masyarakat di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah merayakan festival dhandhangan untuk menandai dimulainya ibadah puasa bulan Ramadhan. Dilansir dari laman warisan budaya.kemdikbud.go.id, puncak acara dalam festival ini dilakukan dengan memukul bedug Masjid Menara Kudus.

Kata dhandhangan diambil dari resonansi bedung yang menimbulkan bunyi ‘dang’. Awalnya, dhandhangan merupakan tradisi berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus setiap menjelang Ramadan untuk menunggu pengumuman dari Sunan Kudus tentang penentuan awal puasa. Setelahnya, masyarakat dari luar Kudus juga antusias menunggu pengumuman di depan masjid.

Lamanya waktu menunggu dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan makanan tradisional siap saji. Memasuki 1980-an, jumlah pedagang mengalami peningkatan dan mulai menjajakan pakaian.

Saat ini tradisi Dhandhangan juga dikenal masyarakat sebagai pasar malam yang ada setiap menjelang Ramadhan. Selain itu, tradisi ini juga menampilkan Kirab Dandhangan yang merepresentasikan budaya yang ada di Kudus, seperti visualisasi Kiai Telingsing, Sunan Kudus, rumah adat Kudus, batil (merapikan rokok), dan lain-lain.

Nah, itulah beberapa tradisi masyarakat jawa dalam menyambut bulan puasa Ramadhan.***


Sebelum Memasuki Puasa Ramadhan Ini 4 Tradisi Yang Dilakukan Masyarakat Jawa