Dilihat : 61 kali

ARAH BAIK – Muhammadiyah sudah menentukan awal Ramadhan jatuh pada 2 April 2022, sedangkan Kementerian Agama RI akan melakukan rukyatul hilal pada 1 April 2022.

Bulan Ramadhan 1443 Hijriah akan segera tiba. Penentuan awal bulan Ramadhan menjadi saat yang dinantikan umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Sebab, di bulan Ramadhan umat muslim akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Di Indonesia sendiri, penentuan awal bulan puasa pernah beberapa kali mengalami perbedaan.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 Tahun 2004 menyatakan ada dua cara untuk menentukan jatuhnya 1 Ramadhan, yaitu menggunakan rukyatul hilal dan hisab. Lalu, apa perbedaan rukyatul hilal dengan hisab?

Rukyatul hilal merupakan penentuan 1 Ramadhan dengan cara mengamati munculnya hilal atau bulan sabit pertama. Pada saat memasuki bulan baru, bulan sama sekali tidak terlihat sepanjang malam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam karena intensitas cahaya hilal sangat redup serta ukurannya sangat tipis.

Jika hilal telah tampak di ketinggian minimal 2 derajat, maka dinyatakan telah memasuki bulan baru. Namun, berdasarkan kriteria MABIMS atau Menteri-menteri Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura, hilal ditentukan dengan ketinggian bulan minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Tahun ini Kementerian Agama menggunakan kriteria ini.

Melansir dari laman Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), rukyatul hilal biasa dilakukan dengan memakai alat bantu optis berupa binokuler atau teleskop. Kemajuan teknologi alat bantu pengamatan dan perekaman citra, seperti kamera juga semakin membantu kejelasan pengamatan. Dikutip dari laman Nahdatul Ulama (NU), tahun ini pengamatan hilal akan dilakukan di 78 lokasi di seluruh Indonesia.

Sedangkan, hisab merupakan metode perhitungan waktu secara astronomis dan matematis untuk menentukan awal bulan. Perhitungan ini didasarkan pada posisi benda-benda langit, seperti matahari, bulan dan bumi. Berdasarkan analisis perhitungan astronomis tersebut, hilal kemungkinan besar dapat diobservasi dan usianya 8 jam 22 menit 3 detik.

Dengan metode hisab  penentuan awal bulan dapat kita ketahui jauh-jauh hari. Hal ini karena hisab tak bergantung pada terlihatnya hilal pada saat terbenamnya matahari menjelang tanggal 1 bulan baru.

Ada dua metode hisab, yaitu hisab urfi dan hisab hakiki. Hisab urfi dilakukan dengan cara menyimpulkan rata-rata lamanya umur bulan Qamariyah. Metode ini dilakukan untuk menentukan umur bulan 29 hari atau 30 hari. Sedangkan hisab hakiki dilakukan bila hilal telah terlihat di ufuk timur pada waktu maghrib, maka sudah dipastikan masuk tanggal 1 bulan baru.***


Memahami Apa Itu Hisab Dan Rukyatul Dua Metode Menentukan Awal Ramadhan