Dilihat : 108 kali

ARAH BAIK - Ulama Mufti Taqi Usmani mendesak umat Islam untuk tidak membiarkan kondisi kronis seperti diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskular menjadi alasan untuk menahan diri dari puasa di bulan Ramadan. 

Mengutip dari laman thenews.com.pk, namun Mufti mengaku bahwa dokter mungkin bisa memberikan saran lebih baik jika penderita penyakit kronis harus berpuasa.

“Penelitian baru menunjukan bahwa kebanyakan penderita diabetes bisa berpuasa. Faktanya, puasa memiliki manfaat bagi penderita diabetes yaitu dapat mengendalikan penyakit mereka, jadi orang seperti itu tidak boleh menggunakan kondisi kesehtan tersebut untuk tidak berpuasa,” ucap Mufti Usmani, Selasa 22 Maret 2022

Mufti Usmani berpidato pada Konferensi Diabetes dan Ramadan Internasional ke-8 yang dimulai di Karachi, yang dihadiri oleh puluhan pakar nasional dan internasional.

Konferensi tersebut diselenggarakan bersama Baqai Institute of Diabetology and Endocrinology Karachi (BIDE) yang bekerja sama dengan Ramadhan and Hajj Study Group Pakistan, National Association of Diabetes Educators of Pakistan dan Diabetes and Ramadan International Alliance (DAR).

Mufti Usmani mengatakan bahwa sebagian orang salah pandangan bahwa Islam mengizinkan semua orang yang bepergian atau yang memiliki penyakit untuk tidak berpuasa.

“Ini bukan aturan umum dan tidak semua orang bisa menikmati ruksah yang diberikan syariah ini kepada para pelancong dan mereka yang sakit.  Bagi mereka yang mungkin memiliki bahaya serius dengan puasa dibebaskan dari puasa atas saran dokter mereka,” katanya.

Pakar Kesehatan dan dokter Prof Ejaz Vohra mengatakan puasa bukan hanya bentuk ibadah tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan. Obat-obatan dan insulin yang lebih baik sekarang tersedia untuk membantu penderita diabetes berpuasa dengan aman tanpa ada gangguan apapun.

“Tujuan utama puasa adalah menahan diri dari lapar, dahaga dan hawa nafsu tetapi banyak juga manfaat tambahannya yang terkait dengan praktik ini dan sekarang terbukti secara ilmiah bahwa puasa juga bermanfaat bagi kesehatan. Kebiasaan baik yang dilakukan di bulan Ramadan bisa dilakukan untuk sepanjang tahun,” kata Prof Vohra.

Dengan bantuan dokter dan penyesuaian obat-obatan , penderita diabetes bisa melakukan  puasa dan beribadah di bulan Ramadan ini. Prof Vohra menginformasikan bahwa memeriksakan kadar gula darah saat puasa juga diperbolehkan dan orang dapat memeriksakan diabetesnya dengan menusuk jari.

Ahli diabetes terkemuka dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Diabetes Pakistan (DAP) Prof. Abdul Basit mengatakan sebelum 2008, 90% praktisi medis tidak mengizinkan penderita diabetes untuk berpuasa tetapi penelitian kemudian membuktikan bahwa sebagian besar penderita diabetes bisa berpuasa.

“Suatu hari, saya menyarankan Prof. Yaqoob Ahmedani untuk mengumpulkan bukti ilmiah untuk melihat apakah orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi dan obesitas dapat berpuasa dengan aman atau tidak karena lebih dari 90 persen orang menderita salah satu dari kondisi ini. Banyak pekerjaan dalam hal ini yang harus dilakukan tetapi sekarang kita tahu bahwa sebagian besar penderita diabetes dan penyakit kronis lainnya dapat berpuasa dengan berkonsultasi dengan dokter mereka,” ujar Prof. Basit. 

Sekretaris Penyelenggara 8th Internasional Diabetes and Ramadan Konferensi 2022 Prof. Yaqoob Ahmedani mengatakan mereka mengadakan kegiatan penyadaran untuk para dokter dan masyarakat umum sejak tahun 2008. Berkat upaya tersebut, mereka sekarang jutaan oranga dapat dengan aman berpuasa di bulan Ramadan dan haji dan umroh dengan aman.

"Dari platform Kelompok Kajian Ramadan dan Haji, kami telah menyiapkan pedoman bagi para dokter dan masyarakat umum untuk berpuasa dengan aman, mendirikan saluran bantuan 24 jam untuk penderita diabetes dan mengadakan seminar dan ceramah kesadaran masyarakat untuk membantu orang beribadah dengan aman,” ujar Prof Ahmedani.


Pandangan Ulama Dan Pakar Terhadap Penderita Penyakit Kronis Yang Berpuasa